Tontonan Televisi

“Trii..kiti kiti…”, begitu Abil berteriak lantang ketika tengah berjalan santai bersamaku sambil bersiap-siap berlari. Tak ketinggalan pula Titan yang belum begitu fasih melafalkan kata-kata ikut-ikutan lari sambil berteriak menirukan ucapan kakaknya. Astaghfirullah….pikirku dalam hati. Sinetron tv begitu meracuni pikiran penontonnya, bahkan bocah-bocah kecil yang belum ngerti apa-apa yang taunya hanya lucu dan senang saja.Mungkin bagi mereka sangat hebat, sekilas kalo aku amati cerita di salah satu stasiun tv swasta yang diputer tiap hari lebih dari satu kali ini, dengan mengucapkan kata-kata tersebut yang seolah-olah mantra, si anak akan bisa lari kencang laksana angin. Begitu kira-kira gambaran cerita yang diperankan oleh tokoh fiksi bernama “ceking’ tsb. Tapi bagi orang-orang yang peduli dengan perkembangan mental spiritual anak-anaknya akan merasa miris dengan tayangan-tayangan seperti itu.

Belum genap setengah tahun, aku berusaha susah payah untuk menghentikan Abil yang kecanduan nonton “Si Ent***”, tayangan serupa di tv yang sama. Bahkan waktu itu aku sampai berkorban untuk sama sekali tidak nonton tv, walaupun itu cuman “Headline News” demi menjaga Abil dari kecanduan tv. Channel-channel yang sekiranya menayangkan hal-hal yang kurang mendidik macam Indo****, SC**, TP*, dan RC** aku sembunyikan di channel belakang yang susah dipilih.
Alhasil, sedikit merugikan aku…Di saat ngomong santai dengan teman-teman kantor perihal acara tv aku selalu bisa melongo saja. Untung masih ada koran dan internet, jadi tidak nonton tv juga tidak selalu ketinggalan berita.

Menurut aku pribadi, menonton tv sah-sah saja asal kita menontonnya dengan sadar. Maksudnya, kita menonton tv arahkan pada satu tayangan yang memang benar kita tonton saja. Bukan seperti trend orang sekarang, tv wajib dinyalakan entah itu ditonton atau tidak. Atau kita menonton tidak hanya pada satu tayangan tv, melainkan semua channel bergantian dipindah-pindah mana yang lagi tidak sedang tayang iklan….Benar-benar sudah mendarah daging!!!
Syukur Alhamdulillah, kebiasaan seperti itu tidak membudaya di lingkungan keluargaku. Bahkan ketika tetangga beramai-ramai beli tv ke-2, ke-3, dst..aku dan keluargaku tak bergeming. Satu tv cukup, berlebih malah !

Semoga, dengan adanya peringatan Hari Tanpa Tayangan TV 20 Juli kemarin sedikit mengingatkan kita untuk lebih bijaksana dalam memilih tontonan di televisi. Juga, mengingatkan kita pula dengan budaya menonton televisi yang tanpa kontrol ada hal-hal negatif yang mempengaruhi perilaku kita sehari-hari dengan tanpa kita sadari. Jadi, waspadalah…waspadalah…!!! begitu kata Bang Napi…hehehe…

Leave a comment

Filed under Family

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s