NAHWU

Nahwu, begitulah kami menyebut salah satu mata pelajaran di pesantren ini dahulu.
Entah itu berasal dari kata apa, yang jelas kata ustadz yang dulu mengajar, Nahwu bisa juga singkatan dari “durung genah lek durung ping sewu” (belum jelas kalau belum 1000 kali, red.). Ada benarnya juga, karena di Nahwu tingkatan yang cukup tinggi yaitu Alfiah yang artinya seribu terdapat 1000 syair yang isinya menggambarkan ketentuan-ketentuan baku tentang tata cara penyusunan kalimat-kalimat dalam Bahasa Arab baik harakat, sususan kata, maupun tata bahasanya, yang kesemuanya itu sudah ada bukti otentiknya dalam Al-Qur’an. Taruhlah salah satu contoh sederhana, kata ilaa (ke) jika diikuti oleh kata lain (biasanya nama tempat) selalu diakhiri dengan huruf kasroh (i). Example kata “ke sekolah” dalam Bahasa Arab akan selalu ditulis “Ilalmadrosati”, gak mungkin ilalmadrosata atau ilalmadrosatu. Itu hanya salah satu contoh kecil dari 1000 ketentuan yang tertuang dalam kitab Nahwu Alfiah ini. Subhanallah…begitu cerdas pengarang kitab ini Muhammad Ibnu Malik. Dan hebatnya, tidak ada satupun keterangannya yang bertentangan dengan apa yang ditulis di Al-Qur’an…

Bagi kami, yang dulu juga sering belajar kitab kuning – sebagian pendapat masih meragukan…wallahua’lam…saya tidak akan membahas hal ini, karena yakin akan sangat panjang dan bertele-tele – memahami pelajaran Nahwu akan memudahkan kita membaca dan memahami arti yang tertuang dalam kitab yang tanpa harokat tsb. Gundulan, istilahnya. Apalagi, 1000 syair Alfiah ini harus dihafalkan dalam jangka waktu 3 th. Murid yang tekun dan rajin akan dengan senang hati nyicil menghafal tiap hari, tapi saya yang waktu itu masih kelas 1 SMA lebih banyak malas-malasan dan sering bolos jika waktunya hafalan. Astaghfirullah…

Sebenarnya, ada satu lagi mata pelajaran yang jadi partnet Nahwu yaitu Shorof. Yang dibahas juga hampir sama, tetapi lebih cenderung ke pemahaman bentuk kata Bahasa Arab. Nahwu dan Shorof ini kalau bisa diibaratkan adalah Matematika dan Bahasa Inggris pas SMP, bisa juga Kimia dan Fisika pada saat SMA, atau pelajaran Micropocessor pada saat kuliah.

Sekarang setelah 10 th lebih, sempat muncul penyesalan kenapa pada saat itu gak terlalu serius belajar. Ikut sekolah malam di pesantren hanya karena rumah kami dekat dengan pesantren saja. Jadi cuman buat pantes-pantesan dan menyenangkan orang tua.
Tapi Alhamdulillah, meskipun sudah banyak yang lupa minimal gak kebingungan ngajarin anak jika besoknya ulangan Bahasa Arab di kelasnya…hehe..atau paling tidak, bisa nyambung apabila ada teman yang ngajak ngobrol Al-Qur’an/Hadits. Wallahu A’lam.

Leave a comment

Filed under Others

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s